Menyapa Kembali Rumah di Wordpress

Hello World! Menyapa Kembali Rumah di WordPress

Posted by

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Penggalan kalimat- kalimat di atas sudah ‘nangkring’ sejak tanggal 1 Juni 2009 lalu. Tepatnya pukul 18.35 wib. Begitu tertera di sudut kanan bawah kolom tulisan ini.

Astaga!

Akhirnya saya menyapa kembali rumah di WordPress ini.

Hello World!

Sebuah postingan khas yang akan muncul di rumah maya pertama semua oran

g (baca: blog). Biasanya postingan ini akan muncul sesaat dan sempat terlihat oleh pemilik rumah saat itu saja. Atau bergegas dihapus; digantikan dengan postingan anyar yang menjadi batu pertamanya.

Tapi di sini, di sebuah rumah yang beralamatkan www.almaprisilya.wordpress.com postingan ini bertahan hampir 7 tahun lamanya. Ckckck.

Beberapa hari yang lalu, Alma Wahdie sang pemiliknya baru menyadari bahwa sebuah rumah maya hasil trial and error-nya di masa lampau berdiri kokoh namun tak terawat sama sekali.

Ada apa gerangan?

Mengapa pemiliknya ini mengacuhkannya selama itu?

Maafkan saudara- saudara, sebelumnya perkenalkan, nama saya Alma Wahdie, pemilik rumah ini yang baru terhenyak, tersadar bahwa ia sebenarnya memiliki sebuah rumah lain di sini. Sayang sekali, kesadaran akan adanya harta karun yang terkubur ini memakan waktu yang cukup lama. Proses be

lajar nan panjang karena keterbatasannya lah yang akhirnya membukakan mata.

Hello World!

Mari kita awali pembelajaran baru di sini. Mari kita ambil pelajaran dari masa yang panjang tadi sebagai awal pembelajaran di Pojok Belajar ini. Setidaknya ada 3 pelajaran yang bisa kita petik:

1. Teliti lah!

Ini yang terjadi selama bertahun- tahun yang lalu. Begitu bersemangatnya belajar membangun rumah di dunia maya, si kecil Alma mulai bertanya kepada kakek Google. Ada banyak saran dari beliau. Bisa bangun rumah di kota A berikut tautan ke artikel atau video tutorial tahapannya. Pun dengan peluang membangun rumah di kota B, C, D, dan kota- kota lainnya.

Saya mencoba- coba membuat rumah di berbagai kotaΒ  itu. Senang sekali dengan beragam tampilan yang user- friendly kalau istilah canggih zaman sekarang, di sebuah kota tertentu. Ramai orang membicarakan

tentang daerah itu.

“Hmmm… Baiklah! Mari kita coba bangun sebuah rumah di sini,” bisikku waktu itu.

Berbekal alamat email yang lebih dari satu kala itu, sementara kemampuan management masih sangat minim. Alhasil, ada banyak surel yang entah apa password-nya.

Terlunta.

Tak bisa dimasuki lagi.

Lupa bahwa dalam masa mencoba- coba tadi ada banyak sekali percobaan gagal atau belum selesai. Maka dari itu, teliti lah! Saya tidak teliti bahwa sebenarnya saya pun sudah membangun di sini kala itu.

Baru sadar akhir- akhir ini karena ada pertanyaan seorang teman di grup tentang harus punya akun WP ketika hendak berkunjung di rumah teman yang beralamatkan wordpress.

Loh? Selama ini saya bisa komentar. Aha! Artinya saya punya akun.

Hal ini juga karena terbiasa menghubungkan alamat surel pada akun yang ada dan simply click the “login by using G+”. Sebuah kemudahan yang membuat saya semakin tidak teliti. Huft.

Teliti lah, Alma!

Mari kita semua lebih teliti lagi agar tak ada yang terabaikan (lagi).

2. Jangan Mudah Berpuas Diri!

Mudah berpuas diri karena merasa nyaman dengan apa yang ada. Ini juga merupakan sebuah sifat yang kurang bagus. Juga menjadi salah satu penyebab terlantarnya rumah ini. Maafkan.

Ketika sebuah rumah saya dibangun di kota A, di tahun yang sama

dengan rumah terlantar ini, saya merasa puas.

Saya pun asyik bermain- main di sana

dan lupa (karena kurang teliti sebelumnya). Sikap mudah berpuas diri ini sangat tidak dianjurkan dalam hal belajar utamanya. Saat itu si kecil Alma sedang bersemangat belajar membangun rumah mayanya. Semangatnya menggebu hingga banyak anjuran dan tutorial dari artikel maupun video diikutinya.

Alhasil, banyak sekali rumahnya ‘berceceran’. Beberapa hilang kuncinya hingga tak bisa masuk lagi. Yang lainnya sempat dijual (baca: dihapus) karena ia sadar diri bahwa belajar itu harus fokus.

Ah.

Janganlah kita mudah berpuas diri dalam belajar!

3. Explore More!

Explorasi. Menjelajah lah!

Ada banyak peluang yang bisa dimasuki, diikuti, dijelajahi. Dari sana akan ada banyak pelajaran yang bisa dipetik tentunya.

Hampir tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Harusnya sudah ada banyak pembelajaran didapat jika saya rasa mudah berpuas diri itu tidak dipelihara. Tentu saja!

Terbatasi hati dan pikiran karena sudah merasa puas membuat alam bawah sadar menghentikan gerakan melangkah. Padahal, ada banyak jalan yang bisa ditapaki.

Karena asyik memili rumah di kota A, dengan segala fasilitas user- friendly- nya, saya menjadi lengah. Malas belajar sesuatu yang ‘baru’. Berbeda sedikit tampilan dilihat, merasa ada sebuah dinding tinggi yang sulit dipanjat. Coba jelajahi dulu! Lihat bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk belajar.

Mari kita belajar lagi.

Dengan pandangan baru tentang cara belajar, tentang indahnya belajar. Karena tak pernah ada kata terlambat untuk belajar.


Akhirnya, postingan ini disunting pada tanggal 13 Desember 2016.

Hello World!

Kembali saya sapa teman- teman di sini πŸ™‚

Maafkan buat yang selama ini bingung melihat rumah kosong tak berpenghuni. Mampirlah pula ke rumah saya di kota A www.almawahdie.id dan B www.almaprisilya.blog.upi.edu jika tengah berkunjung ke sana. πŸ™‚

Bagikan artikel ini melalui:

9 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *